Menjadi Ibu dengan Premenstrual Dysphoric Disorder

Menjadi ibu dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) adalah sebuah tantangan. Jujur, sampai sekarang, saya masih belum tahu bagaimana caranya menghadapi anak di saat saya sedang masuk siklus bulanan yang sangat menyiksa.

 

Apa sih, Premenstrual Dysphoric Disorder itu?

Premenstrual Dysphoric Disorder atau Premenstrual Dysphoria adalah mood disorder yang datang berulang setiap bulan. Gejalanya muncul saat luteal phase (fase luteal, waktu di antara ovulasi dan menstruasi) dan menghilang saat menstruasi dimulai. Siklus PMDD berkisar antara satu sampai dua minggu lamanya. Sebuah riset yang dilakukan tahun 2017 mengatakan bahwa PMDD terjadi karena genetic malfunction sehingga menyebabkan tubuh menjadi sensitif terhadap fluktuasi hormon.

Setelah kilas balik, saya sudah sekitar tujuh tahun mengalami premenstrual dysphoric disorder. Namun diagnosa nyata baru didapatkan tahun ini saat usia saya tiga puluh tahun dan sudah memiliki satu anak.

Sama sekali tidak menyangka kalau diagnosa yang diberikan akhirnya memperjelas kondisi membingungkan yang selama ini saya alami.

Saya mengira hanya mengalami PMS. Namun mengapa PMS ini panjang sekali? Bisa sampai dua minggu lamanya. Dan gejala-gejala yang hadir dalam dua minggu itu membuat saya nyaris tidak bisa beraktivitas.  Tubuh sering sakit, mengalami extreme fatigue (sangat ekstrim, sampai kelelahan naik-turun tangga rumah), payudara bengkak, ada benjolan di ketiak kanan, nafsu makan meningkat, merasa depresi, mengalami sedih berkepanjangan. Oh! rasanya sungguh tidak karuan. Namun semua gejala yang dirasakan tersebut menghilang saat menstruasi dimulai. Selama menstruasi, saya merasa menjadi diri sendiri. Seluruh sakit di tubuh hilang, jadi kembali penuh energi, bersemangat, rasanya bisa menaklukan dunia!

Sayangnya perasaan bahagia tersebut cuma bertahan paling lama empat belas hari dalam sebulan. Sisanya, saya kembali jadi seorang ibu yang ‘penyakitan’ dengan segala keanehan tubuhnya.

 

PMS sudah buruk, tapi PMDD ini jauh lebih buruk dan kejam. Apalagi sebagai seorang ibu yang punya anak balita. Saat masuk siklus, saya jadi tidak bisa bermain bersama anak seperti seharusnya. Jangankan bermain, sekadar membacakan buku cerita saja saya seringkali tidak mampu. Kepala sangat sakit dan perasaan tidak karuan. Hal-hal sederhana seperti mainan yang berantakan dan sedikit rengekan yang terdengar biasa saat hari normal, bisa membuat saya meledak tidak karuan. Tadinya saya pikir saya mengalami postpartum depression berkepanjangan, tetapi setelah bertemu psikiater, barulah ketahuan kalau saya mengalami PMDD.

Saat masuk siklus, yang bisa saya lakukan hanyalah bersembunyi di kamar, mematikan lampu (karena juga mengalami sensitivitas terhadap cahaya terang) dan berusaha untuk tidak marah-marah kepada anak saya, Nyala. Dia belum paham apa yang terjadi dengan ibunya, tapi saya berusaha menjelaskan. Saya juga menyiasati keanehan saat siklus ini datang dengan memasang pengumuman yang ditempel di kulkas, kira-kira seperti ini: Kenya sedang masuk siklus. Mohon kerjasamanya. Jangan tersinggung atau marah dengan sikap Kenya selama dua minggu ini. Segera jauhkan Nyala jika Kenya mulai ‘galak’. Terima kasih.

Saat pengumuman ini sudah terpajang di kulkas, biasanya pengasuh Nyala langsung mengambil alih pengasuhan Nyala sambil menjelaskan kepada Nyala kalau ibunya sedang sakit.

Saat saya sedang terbaring di kamar, Nyala suka datang menjenguk. Dengan tangan kecilnya ia datang dan memeluk sambil berkata “Kembali sembuh, ya, Ibu. Jangan khawatir, aku kan obatnya…” hati saya sedih sekali mendengar suara seindah itu berbisik di telinga.  Seandainya saja saya bisa sehat lebih lama.

 

Saat ini saya sedang menjalani proses pengobatan. Sebenarnya tidak tepat juga dibilang pengobatan karena sepembacaan saya, PMDD ini tidak bisa hilang 100%, namun gejalanya bisa diminimalisir. Saya melakukan berbagai macam cara untuk meminimalisir gejala yang muncul: mengubah pola makan menjadi clean eating, berolahraga, terapi self-healing sederhana & mengonsumsi vitamin herbal.

Satu yang saya perhatikan, saat tidak masuk siklus semua kelihatannya baik-baik saja, tetapi saat masuk siklus, untuk sekedar bertemu orang pun saya merasa enggan. Inilah yang membuat saya pada akhirnya takut membuat janji untuk bertemu atau melakukan sesuatu. Saya takut tidak bisa memenuhi segala janji karena diri saya sendiri jadi sangat tidak karuan saat masuk siklus.

Mengetahui bahwa yang saya alami ini bernama PMDD sedikit banyak membantu untuk mengenali siklus dan ritme diri sendiri. Sempat saya mengira kalau keanehan ini karena pengalaman trauma masa lalu atau mengalami kondisi kesehatan mental lainnya. Namun saya jadi tahu kalau saat sedang masuk siklus, segala gejala yang saya alami (selain gejala fisik) itu hanya ‘sementara’. 

Saya tidak depresi, tetapi hanya merasa depresi. Saya tidak kesepian, aku hanya merasa kesepian. Semua itu tidak terhindarkan karena saat masuk siklus semuanya terasa begitu nyata. Begitu menstruasi datang, semua gejala tersebut mereda. Dengan segala proses penyembuhan yang sedang saya jalani, proses paling penting yang sudah dilalui adaah proses penerimaan diri. Saya sudah menerima kalau memang saya mengalami PMDD dan saya tidak bisa berfungsi seperti orang & ibu pada umumnya. Saya menerima kalau waktu saya terbatas, menerima kalau jalan saya lebih lambat daripada orang-orang di sekitar. Dan saya merasakan, dengan menyadari & mengakui keterbatasan ini, perasaan saya jadi jauh lebih baik.

Selain itu, saya juga membuat akun peduli PMDD @disvoria di Instagram, dengan tujuan membantu penyebaran kepedulian terhadap perempuan-perempuan yang mengalami PMDD. PMDD ini nyata, para pengidapnya sering mendapatkan stigma negatif bahkan dari orang terdekat. Akhirnya, banyak penderita PMDD susah menemukan orang yang benar-benar mendengarkan dan mengerti perasaan yang mereka alami saat masuk siklus. Disvoria menawarkan support dan telinga yang siap mendengarkan segala keluh kesah bagi orang dengan PMDD atau partner/teman orang dengan PMDD yang ingin bercerita.

2 Comments

  1. avatar
    Honey Josep January 29, 2020 6:52 pm

    hai mama Nyala, ternyata ada kelainan seperti ini yang belum banyak orang yang tahu.

    Semoga dengan usaha yang dijalankan bisa meringankan kala siklus datang.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    zata ligouw January 19, 2020 9:25 pm

    wahh, seneng banget baca tulisan ini, informatif banget. Aku pun ngalamin yg mirip2, sminggu sebelum mens, seminggu selama mens, dan seminggu setelah mens, jadi 'free'nya cuma satu minggu selama sebulan!. Sampe dateng ke bbrp dokter kandungan dan ngejalanin bbrp tes, sampe disaranin angkat rahim segala segala. Akhirnya solusinya jaga gaya hidup, olahraga yoga, terapi access bars, sampe minum suplemen.

    1. avatar

      As .